Circumcision with local anesthesia or general anesthesia?


          Circumcision is obligatory for a Muslim after puberty. Circumcision is done by cutting some skin in the pubic end . Sometimes circumcision performed on children, or even a new born baby, for certain medical reasons, such as the presence of phimosis or adhesions in a hole out in pubic. Phimosis causing obstructed flow of urine into the urethra causing inflammation. It is necessary to process anesthesia, either with local or general anesthesia, So that the patient does not feel pain during the action.
          In the pediatric patients, patients with special needs such as the existence of hemophilia, mental weakness patients, or patients with excessive fear, then circumcision, a general anesthetic is a better choice than a local anesthetic. Circumcision with special needs or complications are usually handled by a surgeon. After the action was decided by the surgeon and the patient's family agreed, then the surgeon will consult to the anesthesiologist for anesthesia methods. Subsequently, the patient or his family will be explained about the method of general anesthesia to be performed on the patient.
          General anesthesia is an anesthetic or anesthetic technique that makes the patient is unconscious or asleep deep enough so that surgery can be performed safely and comfortably. On the use of this technique, patients who had planned the operation time will be required for laboratory mainly routine blood check and asked to stop eating and drinking since at least 6 hours before surgery. This treatment is referred to as preoperative preparation. Blood tests intended that if there are certain diseases such as bleeding disorders, anemia or infection, may soon be known. Fasting before surgery intended to make the stomach empty. Empty stomach is necessary so that the risk of vomiting or regurgitation in patients anesthesia process can be minimized. Vomiting or regurgitation that occurs can lead to aspiration, namely the inclusion of acidic gastric contents into the airways or lungs. Preoperative preparation is basically aimed at making conditions optimal for patient anesthesia and surgery.
          If the patient is cooperative or be invited to cooperate with the surgeon, for example, can calmly undergo circumcision, it can be done local anesthesia. Local anesthetic procedure is simpler than general anesthesia. At the local anesthetic technique, patients do not need to fast beforehand. Sufficient local anesthesia by injecting anesthetic into the pudendal nerve or nerves around the area that will be done surgically. In contrast to general anesthesia requires patient monitoring after surgery, until the patient is fully conscious, the patient with local anesthesia can go home if the surgery has been completed.
        Based on the above description, it is the patient that there is no contraindication to general anesthesia, can choose circumcision under general anesthesia. This is of course with consideration of surgeons and anesthesiologists.


Tips menolong korban tenggelam

Menolong korban tenggelam mungkin lebih sulit daripada menolong korban di darat. Diperlukan keahlian khusus seperti berenang dan alat-alat yang sesuai. Jangan sampai tujuan menolong korban, mengakibatkan diri sendiri ikut menjadi korban. Berikut ini tip-tip yang bisa dilakukan untuk menolong korban tenggelam:

  1. Pastikan anda siap menolong. Sebelum menolong korban tenggelam, pastikan anda mempunyai keahlian dan alat pelindung yang cukup, misalnya pelampung atau jaket pelampung.
  2. Jika terdapat lebih dari 1 penolong, maka penolong ke dua sebaiknya segera menelpon 118 atau memanggil bantuan kepada petugas rumah sakit terdekat. Katakan lokasi kejadian dan jangan tutup telepon sampai pihak rumah sakit atau 118 mengerti apa yang akan dilakukan.
  3. Jika korban masih sadar, maka segera ambil kayu atau tongkat untuk mencapai korban. Jika terlalu jauh, maka seutas tali yang panjang bisa dilemparkan ke arah korban. Suruh korban berpegangan pada peralatan tersebut. 
  4. Jika posisi korban terlalu jauh, dan ada banyak penolong, maka coba untuk mencapai korban dengan cara membuat rangkaian penolong seperti rantai. Ingat, ikat penolong terdepan dengan tali dan pangkal tali diikatkan pada rantai penolong. Tidak usah memaksakan diri untuk mencapai atau menyentuh korban yang panik. Cukup memakai dayung atau tali yang diarahkan ke korban agar  menngapai tali atau dayung tersebut. 
  5. Jika korban pingsan, maka dekatilah korban dengan perahu atau penolong mendekati korban dengan lebih dulu mengikatkan diri pada tali yang ujungnya ada yang memeganginya.
  6. Sesampai korban di daratan, segera selimuti untuk mencegah kedinginan atau hipotermi. Jika terjadi henti jantung atau napas, segera lakukan bantuan hidup dasar.
  7. Mudah-mudahan bermanfaat

Tes Potensi Akademik


UMY memberlakukan tes potensi akademik untuk menjaring mahasiswa baru. Tes ini berbeda dengan tes mata pelajara lainnya, karena isinya serupa dengan psikotes. Tes potensi akademik (TPA) berisi: tes kemampuan verbal, tes deret seri, tes aritmatika, tes penalaran logis, tes penalaran analitis. 
Di bawah ini beberapa tips yang bisa dicoba untuk memperbesar peluang sukses TPA:


  1. Satu minggu atau sebulan sebelum ujian tes potensi akademik berlangsung berlatihlah soal-soal mengenai tes potensi akademik/TPA sebanyak mungkin, baik itu melalui ebook atau buku yang Anda beli, dan patuhilah batasan waktu dalam mengerjakan TPA sesuai arahan yang tertulis. 
  2. Dalam tes potensi akademik/TPA, tes angka yang diberikan umumnya adalah angka-angka yang bisa dikerjakan tanpa harus menggunakan rumus-rumus matematika tertentu yang rumit. Oleh sebab itu, tidak perlu anda menghafal berbagai macam rumus-rumus matematika yang rumit untuk menghadapi tes TPA, karena akan membebani anda saja, yang diperlukan adalah logika berpikir terstruktur serta kecepatan dan ketepatan saat menjawab soal.
  3. Saat anda mengerjakan soal-soal TPA, kondisikan diri anda dalam keadaan yang konsentrasi tapi rileks, dan tidak tegang.
  4. Sebelum mulai mengerjakan, lihatlah jumlah soal dan jumlah waktu yang diberikan. Lalu hitunglah berapa alokasi waktu persoal. Misalkan persoal, anda punya waktu 30 detik, maka kerjakanlah masing-masing soal maksimal dalam waktu 25 detik saja. Sisa 5 detik ini penting untuk mengerjakan soal-soal yang terlewati atau masih ragu-ragu dalam jawaban. Jika dalam waktu 25 detik, anda tidak mampu menemukan jawabannya, lewati saja dan beralih pada soal berikutnya. Ingat, dengarkanlah seluruh instruksi yang disampaikan oleh panitia penyelenggara dengan seksama. Sehingga Anda dapat paham terhadap mengerjakan soal tes.
  5. Selain mematuhi alokasi waktu per soal, upayakan pula menabung waktu. Jika dalam mengerjakan satu soal anda hanya membutuhkan 23 detik, maka anda dapat menabung 7 detik. Ini sangat penting artinya di saat-saat akhir. Karena anda akan sangat memerlukan waktu untuk mengulangi soal yang terlewati, soal yang masih ragu-ragu jawabannya, dan meneliti ulang lembar jawaban apakah arsiran pensilnya sudah hitam sempurna.
  6. Jika anda menemukan soal yang bentuknya belum pernah anda temukan sebelumnya dan anda belum tahu bagaimana mengerjakan soal tersebut, maka jangan ambil pusing, lewati saja, dan fokuskan kepada soal berikutnya. Hal ini dilakukan agar lebih mengefesienkan waktu yang terus berjalan.
  7. Jangan pilih kasih terhadap soal tertentu, semua soal adalah sama bobot nilainya. Oleh karena itu, setiap soal mendapatkan alokasi jatah waktu yang sama. Kerjakan saja soal yang Anda ketahui, jika Anda sudah siap mengerjakan soal yang anda ketahui tersebut dan sisa waktu masih ada, kembali ke soal yang belum dapat Anda jawab untuk mengetahui jawabannya.
  8. Berdasarkan penelitian ilmiah, kondisi psikis, mental dan kinerja otak memiliki hubungan erat. Jika kondisi psikis tenang, maka otak anda berada pada gelombang tertentu yang sangat kondusif untuk berpikir secara optimal. Oleh sebab itu, sebelum melaksanakan tes TPA,berdoalah sesuai dengan kepercayaan masing-masing dengan keyakinan bahwasannya Anda dapat lulus dalam tes potensi akademik ini.
  9. Lakukanlah sugesti kepada diri Anda sendiri dengan penuh emosional sebelum berlangsungnya tes potensi akademik, dengan mengatakan kepada diri Anda "Aku Bisa". Kalimat tersebut sangat powerfull yang dapat membangkitkan seluruh kekuatan mental dan fikiran Anda untuk berhasil dalam tes tersebut.
  10. Pada poin yang kesepuluh ini merupakan poin yang krusial dan sepele yang sering sekali dilupakan, yaitu 1 hari sebelum berangkat kelokasi dimana tes potensi akademik berlangsung, survey lokasi tempat tes dan ruangan Anda. Kemudian setelah itu persiapkan juga peralatan tulis-menulis yang dibutuhkan.
Selamat tes TPA. Sukses untuk anda!

Pemilihan transfusi yang sesuai pada beberapa kasus


Tranfusi darah merupakan salah satu bagian dari pemeliharaan kesehatan modern. Menurut WHO (2008), meskipun dapat menyebabkan komplikasi yang akut atau tertunda  dan berresiko pada penyebaran penyakit seperti HIV, virus hepatitis, dan sipilis, tetapi jika digunakan secara tepat, tranfusi dapat memperbaiki kesehatan dan bahkan menyelamatkan hidup (1)
            Penggunaan atau pemilihan jenis tranfusi darah atau produk darah yang tidak tepat apalagi dengan pengolahan dan penyaringan produk yang tidak baik, akan meningkatkan resiko terjadinya efek samping tranfusi seperti penularan virus, bakteri, dan parasit serta reaksi antigen-antibodi karena ketidakcocokan darah donor dengan penerima. Disamping itu, umur darah dan produk darah yang masuk ke tubuh penerima dapat lebih pendek sehingga menurunkan kegunaannya. Karena dapat berefek yang tidak menguntungkan dari tranfusi, maka tranfusi hanya diberikan jika mempunyai indikasi yang tepat. Pada batas-batas tertentu maka dapat digunakan cairan pengganti seperti kristaloid dan koloid. Tranfusi dapat lebih bermanfaat  apabila digunakan secara seletif, dan pada keadaan yang memerlukan penurunan angka morbiditas dan mortalitas. Diperlukan kesepahaman antara penentu kebijakan kesehatan, penyedia jasa layanan kesehatan, dan para klinisi agar tranfusi benar-benar diberikan pada pencegahan, diagnosis awal, dan penanganan kondisi yang memerlukan tranfusi darah.

Jenis-jenis darah dan produk darah
Darah merupakan cairan yang vital, dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh melalui arteri dan vena. Darah sampai ke jaringan dan sel tubuh membawa oksigen dan nutrien dan mengambil karbon dioksida (CO2) dan hasil sisa metabolisme tubuh. Darah tersusun dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda, yaitu (2):
1.     Whole blood (darah utuh):
Darah utuh mengandung semua komponen darah. Diambil dari para pendonor darah sekitar 200-500 setiap unitnya. Setelah diambil dari donor, biasanya whole blood dipisahkan menjadi komponen-komponennya.
2.     Sel darah merah
Komponen darah in memberikan warna merah pada sediaan darah. Fungsinya untuk membawa dan menyampaikan oksigen ke sel-sel dan membawa CO2 kembali ke paru-paru. Pembentukan sel darah merah terdapat di sum-sum tulang, yang distimulasi oleh hormon eritropoetin di ginjal. Resipien yang memerlukan sel darah merah, diberikan berupa “packed red blood cells
3.     Trombosit
Trombosit merupakan fragmen sel darah merah yang berperan pada pembekuan darah. Bekerja bersama faktor pembekuan darah, akan membentuk jendalan darah yang mencegah perdarahan yang tidak dikehendaki. Trombosit dipisahkan dari plasma darah.
4.     Leukosit (granulosit)
Dikumpulkan dari darah utuh, dengan cara aferesis. Berfungsi untuk melawan proses infeksi. Sering disebut dengan “buffy coat”. Jarang digunakan untuk transfusi, karena sudah banyak jenis antibiotika yang ditemukan.
5.     Faktor koagulasi.
Ditemukan dalam plasma darah.
6.     Plasma
Plasma mengandung beberapa faktor pembekuan dan protein seperti antibodi. Setelah dipisahkan dari darah, maka dapat dibekukan dan disimpan sampai setahun. Setelah dicairkan, maka disebut sebagai fresh frozen plasma (FFP). Kriopresipitat merupakan fragmen kecil dari plasma yang mengandung faktor pembekuan tapi dengan sedikit cairan.
7.     Albumin.
Merupakan jenis protein yang salah satu fungsinya adalah menjaga osmolaritas cairan tubuh.


 Daftar Pustaka

1.         WHO, 2008. Appropriate Transfusion
2.         American Cancer Society. 2008. Blood end It’s Components.
3.         National Health and Medical Research Council, Australasian Society of Blood Transfusion. Clinical practice guidelines on the use of blood components (red blood cells, platelets, fresh frozen plasma, cryoprecipitate) [draft document]. Australia: NHMRC-ASBT, 2002;1-75.
4.         http://www.fhi.org. Guidelines for the Appropriate Use of Blood and Blood Products. 2nd ed.

Fakta Seputar Penerimaan Mahasiswa Baru FKIK UMY


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY Alhamdulillah masih diminati calon mahasiswa. Terbukti dari tahun ke tahun, jumlah pendaftar mencapai ribuan calon mahasiswa baru. Ada beberapa cara pendaftaran calon mahasiswa baru. Pertama adalah melalui jalur penelusuran minat dan bakat serta prestasi (PMDK). Melalui jalur ini, maka calon yang berminat akan mengumpulkan berkas pendaftaran yang berisi keterangan rapor SMA, nilai (ujian akhir nasional) UAN SMP, dan sertifikat prestasi yang telah diraih. Biasanya calon mahasiswa yang mendaftar pada model ini, memang merupakan siswa berprestasi di sekolah masing-masing. Pada tahun-tahun yang sudah lalu, kebanyakan mahasiswa yang diterima untuk Prodi Kedokteran memiliki nilai UAN cukup tinggi dengan rata-rata nilai 9.5 ke atas. Persaingan cukup ketat. Apalagi jatah untuk model PMDK hanya mengambil 70 kursi dari 200 kursi yang tersedia. Nilai UAN ini masih dikonfirmasi dengan nilai rapor semasa SMA dan sertifikat kejuaraan. Rangking tertinggi biasanya adalah calon yang memiliki nilai UAN tinggi, dan sertifikat kejuaraan tingkat nasional atau daerah seperti olimpiade sains, kompetisi bahasa inggris, atau mempunyai bakat khusus seperti pandai menyanyi, main music, qiroah, dll. Nilai rapor biasanya sebagai penentu ketiga, dengan alas an tiap sekolah di tiap daerah kadang standar penilaian rapornya berbeda.
            Jalur penerimaan kedua adalah melalui computer base test (CBT). Pada model ini, maka calon mahasiswa mengerjakan soal tes di computer yang diediakan panitia. Soal yang dipakai bukanlah mata pelajaran sekolah, tetapi tes potensi akademik. Standar nilai yang dipakai cukup tinggi, yaitu mencapai 80 point. Selama ini baru kira-kira 3 orang yang bisa lolos memakai model ini. Kelebihan memakai model ini adalah hasil kelulusan yang segera dapat diketahui. Begitu nilai mencapai 80, maka calon langsung dinyatakan diterima saat itu juga.
            Jalur tes ketiga adalah melalui ujian tulis biasa (paper base test=PBT). Jalur PBT biasanya sudah dibuka pada bulan bulan april, mei dan juni. Ada 3 gelombang jalur PBT. Setiap gelombang ada 2 jalur, yaitu jalur regular dan kemitraan. Beda antara jalur regular dan kemitraan adalah pada jumlah sumbangan pendidikan dan standar nilai kelulusan. Misalnya pada jalur regular yang lulus minimal mempunyai nilai 70, maka setiap penurunan nilai 1 point mahasiswa jalur kemitraan bisa menambah nilai sumbangan 5juta, sampai maksimal 50juta. Artinya adalah, nilai minimal yang bisa diterima yaitu 60. Jalur kemitraan ini besarnya hanya 20 % dari jumlah yang diterima pada setiap gelombang. Jadi misalnya gelombang pertama yang diterima sebanya, 50 kursi, maka jalur kemitraan hanya tersedia 10 kursi. Biasanya semakin mendekati akhir penmaru di gelombang 3, maka jumlah pendaftar bisa mencapai keketatan 20:1, yang berarti 1 calon yang diterima mengalahkan 20 pesaingnya. Ada rumor bahwa dengan menyumbang sejumlah nilai uang tertentu, maka otomatis dapat diterima sebagai mahasiswa baru. Tentu saja itu hanya rumor, atau kalaupun ada, pastilah ulah oknum yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena system nilai yang dijadikan patokan. Jika tidak memenuhi nilai minimal, maka tentu saja tidak dapat diterima sebagai mahasiswa.
            Beberapa tips berikut mungkin dapat dijadikan acuan agar tidak salah dalam mendaftar penmaru cama FKIK UMY.
  1.  Tentukan pilihan pertama dan kedua fakultas dan prodi yang diinginkan. Jika sudah berniat pada 1 prodi (misalnya Pendidikan Dokter), maka tulislah pilihan pertama dan kedua adalah kode prodi pendidikan dokter. Jika menuliskan pilihan kedua ada pada prodi lain, maka jika tidak diterima di prodi PD akan dimasukkan ke pilihan kedua (biasanya nilai PD paling tinggi diantara prodi dan fakultas lain)
  2. Tentukan jalur tes yang akan diikuti, apakah memilih PMDK, CBT, atau PBT kemitraan atau regular. Untuk jalur kemitraan, maka calon dan orangtua harus ikut mendaftar karena akan dilakukan wawancara kesanggupan membayar biaya sumbangan saat itu juga. Disamping itu harusmembawa persyaratan lain berupa kartu keluarga dan kata lahir.
  3. Siapakan diri untuk mengerjakan tes, bawa alat tulis secukupnya, dan istirahat cukup pada malam hari sebelum tes. Karena tes potensi akademik tidak bisa dipelajari sebelumnya, maka tidak perlu belajar mata pelajaran matematika, IPA dan lain-lain.
  4. Berdoa dan kalau perlu shalat tahajjud agar diberi kemidahan. Jika belum diterima sebagai mahasiswa baru yang diinginkan, bersabar dan yainlah bahwa semua adalah jalan yang terbaik.
  5. Sukses Penmaru !!


           

2010 CPR Guidelines. How the American Heart Association's CPR Guidelines Have Changed for 2010


After a review of the available research published over a 5 year period, the American Heart Association released its 2010 CPR Guidelines. As expected, the focus for CPR is on good quality chest compressions. Here are the differences between the 2005 and the 2010 CPR Guidelines:
  • A-B-C is for babies; now it's C-A-B!
    It used to be follow your ABC's: airway, breathing and chest compressions. Now, Compressions come first, only then do you focus on Airway andBreathing. The only exception to the rule will be newborn babies, but everyone else -- whether it's infant CPRchild CPR or adult CPR -- will get chest compressions before you worry about the airway.
  • No more lookinglistening and feeling.
    The key to saving a cardiac arrest victim is action, not assessment. Call 911 the moment you realize the victim won't wake up and doesn't seem to be breathing right.
    Trust your gut. If you have to hold your cheek over the victim's mouth and carefully try to detect a puff of air, it's a pretty good bet she's not breathing very well, if at all.
    I have a secret to share: paramedics have been doing it this way for years. Rarely have I seen an EMT or a paramedic put her ear to a victim's nose and listen for air movement. We just get to work.
  • Push a little harder. How deep you should push on the chest has changed for adult CPR. It was 1 1/2 to 2 inches, but now the Heart Association wants you to push at least 2 inches deep on the chest.
  • Push a little faster. AHA changed the wording here, too. Instead of pushing on the chest atabout 100 compressions per minute, AHA wants you to push at least 100 compressions per minute. At that rate, 30 compressions should take you 18 seconds.
Besides the changes under the 2010 CPR Guidelines, AHA continues to emphasize some important points:
  • Hands Only CPR. This is technically a change from the 2005 Guidelines, but AHA endorsed this form of CPR in 2008. The Heart Association still wants untrained lay rescuers to do Hands Only CPR on adult victims who collapse in front of them. My biggest problem with this campaign is what's left unsaid. What does AHA want untrained lay rescuers to do with all the other victims? In other words, what do you do with the victims that aren't adults or that didn't collapse right in front of you? AHA doesn't provide an answer, but I have a suggestion: DoHands Only CPR, because doing something is always better than doing nothing.
  • Recognize sudden cardiac arrest. CPR is the only treatment for sudden cardiac arrest and AHA wants you to notice when it happens.
  • Don't stop pushing. Every interruption in chest compressions interrupts blood flow to the brain, which leads to brain death if the blood flow stops too long. It takes several chest compressions to get blood moving again. AHA wants you to keep pushing as long as you can. Push until the AED is in place and ready to analyze the heart. When it is time to do mouth to mouth, do it quick and get right back on the chest.
Source:
Field JM, Hazinski MF, Sayre MR, Chameides L, Schexnayder SM, Hemphill R, Samson RA, Kattwinkel J, Berg RA, Bhanji F, Cave DM, Jauch EC, Kudenchuk PJ, Neumar RW, Peberdy MA, Perlman JM, Sinz E, Travers AH, Berg MD, Billi JE, Eigel B, Hickey RW, Kleinman ME, Link MS, Morrison LJ, O’Connor RE, Shuster M, Callaway CW, Cucchiara B, Ferguson JD, Rea TD, Vanden Hoek TL. "Part 1: executive summary: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care." Circulation. 2010;122(suppl 3):S640–S656.